Arsip Tag: open source

Pengumuman Belajar Bareng Linux Ubuntu Bulan Desember 2009

Untuk teman-teman komunitas Ubuntu SumSel. Insya Allah, pada hari Minggu tanggal 27 Desember 2009, kita akan ketemuan rutin sharing bulanan Ubuntu. Adapun detail acaranya adalah sebagai berikut;

Tempat: Guyub – Jl. KHA Dahlan No. 74 – Palembang

Hari/Tanggal: Minggu/27 Desember 2009

Waktu: Pukul 16.00 WIB (4 sore)

Pemateri: Idrus Fadhli

Materi: Multimedia di GNU/Linux Ubuntu

Demikian penyampainnya, diharapkan bagi teman-teman yang membaca blog ini menyampaikan ke temannya yang lain.

Iklan

Kamu aktivis Linux yang bagaimana ? :)

Open source is a development methodology;  free software is a social movement.  (Richard Stallman)

Bair yakin banyak yang masih belum betul-betul paham perbedaan dan persamaan antara Open Source dan Free Software *termasuk Bair*, boro-boro deh.. tentang Freeware dan Free Software saja masih banyak yang keliru bin bingung.

Bair juga pernah dapat pertanyaan serius (baca: lucu) dari teman, kalau Bair ini aktivis Linux yang bagaimana, khususnya mengenai perbedaan Free Software dan Open Source, dan juga menyangkut perbedaan pendapat Richard Stallman yang ingin bahwa Linux harus menggunakan semua aplikasi free software, dan Linus Torvald yang menerima aplikasi propietary dibuat untuk Linux?

Jawaban Bair sih, terus terang dari baca sekilas tulisan berkaitan dengan ini, masing-masing punya alasan sendiri, dan memang sudut pandang keduanya sedikit berbeda, walaupun sama-sama dari sisi aktivis pengembang. Selain itu Bair juga gak bisa memastikan apa tujuan akhir/utama keduanya, apalagi menganalisis apakah langkah/sikap mereka betul-betul efektif dan efisien gak untuk memperoleh tujuan akhirnya itu.

Sedangkan kalau Bair sendiri dari sisi murni pengguna sih senang-senang aja kalau makin banyak aplikasi pendukung Linux entah itu FOSS ataupun propietary *egois mode ON :D*, asalkan aplikasi ini hanya fitur tambahan dan bukan inti dari Linux tentunya.

Orang pakai Windows saja Bair masih menganjurkan kalau itu memang yang paling bijak untuk dia saat ini kalau memang itu solusi terbaik untuk kebutuhannya, dan tentunya dia mampu beli sehingga legal a.k.a tidak mencuri bin membajak.

Sekali lagi harus dilihat keadannya juga, jangan sampai hanya karena malas belajar dan alasan lainnya, sehingga kebutuhan ngetik dan main Solitaire harus bajak atau kalau beli lisensi ngambil dari uang rakyat, sementara sudah ada Linux yang tidak hanya lebih aman dari virus dan  lebih murah, akan tetapi lebih besar dari itu juga mengurangi ketergantungan kita ke pihak luar.

Sedangkan untuk perbedaan prinsipil Open Source dan Free Software sendiri Bair lebih condong netral, makanya lebih suka menggunakan FOSS, FLOSS tau F/OSS untuk tetap mengakomodasi keduanya.

Intinya sih sebagaimana tertulis di aturan pakai blog ini semua itu toh rumusan akal manusia, yang tidak selalu benar dan sempurna, dan tidak ada juga yang maksa kita untuk terima salah satu atau kedua-duanya secara bulat.

FOSS menurut Bair hanyalah salah satu wasilah/jalan untuk bisa memberikan sumbangsih dalam berjuang bersama-sama mewujudkan dunia yang lebih baik (dimulai dari diri sendiri :D ) melalui bidang Teknologi Informasi (TI) yang Bair coba geluti.

Btw, gimana menurut kalian?

nb: Tidak ada maksud  menimbulkan flame, tapi jujur hanya ingin sharing.

Kok ada yang mau-maunya buat aplikasi terus dibebaskan aja?

Diantara teman-temanku banyak yang masih bingung dan bertanya-tanya, kok ada perusahaan atau profesional yang mau-maunya membuat aplikasi dengan Free Open Source Software (FOSS).

Nah biar efisien, gak perlu jelas-jelasin satu-satu, sekalian aja diposting disini, buat dibaca (dan kalau ada yang salah dikoreksi juga :D) bareng-bareng. Biar lebih enak Bair buat dalam format tanya jawab aja.

To do point banget, dapat uang dari mana nantinya, kalau software itu dibebaskan ?

Dalam filosofi FOSS *sudah banyak sekali infonya ini sebenarnya termasuk dalam blog ini*, kebebasan tidak ada hubungannya dengan uang atau  harga, jadi source-nya boleh terbuka tapi si pembuat  juga boleh menentukan bayaran tertentu untuk ijin penggunaanya (lisensi). Walaupun kenyataannya banyak yang menggratiskan aplikasinya selain juga dibebaskan.

Nah itu kan, banyak yang membebaskan sekaligus menggratiskan, nah mereka dapat apa?

Hehhee… pendapatan tidak harus diperoleh dari biaya pembelian izin menggunakan aplikasi itu kan. Si pembuat aplikasi bisa saja memperoleh pendapatan dari biaya support, biaya kostumisasi, biaya penambahan fitur, training, dll. Hal ini pasti dibutuhkan karena masalah dan keadaan yang akan ditangani oleh aplikasi pasti akan selalu berubah dan bervariasi pada setiap user/klien.

Cara lain bisa juga dengan mengambil keuntungan dari turunan-turunan yang disebabkan oleh aplikasi buatannya, misal kita lihat wordpress.com sekarang salah satunya jualan domain, mengenakan charge untuk modifikasi css, dll. Selain itu bukan tidak mungkin merchandise dari produk itu bisa jadi sesuatu yang bisa menghasilkan, makanya kebanyakan tidak membebaskan trademark dari perusahaan atau aplikasinya.

Oh ya dan ada juga yang bisa melalui sumbangan sukarela dari pemakai.

Tapi kan kadang lebih besar keuntungan dengan langsung menjual lisensi saja?

Itu sih tergantung. Saat membuat aplikasi kan kondisi pembuatnya berbeda-beda. Dengan menggunakan FOSS sangat dimungkinkan untuk membangun aplikasi yang canggih, mature dan sulit dengan hanya mempunyai sedikit modal dan juga tim dalam perusahaan. Sumbangan tenaga development dari komunitas dan pemakai sangat membantu dan ini jelas-jelas menekan cost dan waktu development.

Oh iya salah satu yang juga sangat krusial adalah pemasaran. Dengan FOSS kita bisa mendapat promosi gratis dari komunitas dan evangelist yang ikut memiliki dan telah menggunakan aplikasi kita. Sosialisasi bisa cepat menyebar, user akan dengan senang hati mencoba dan selanjutnya menyebarkan aplikasi kita.

Hmm.. iya juga ya ..

Tidak hanya itu juga sih. Kadang bahkan aplikasi yang dibebaskan ini bisa jadi hanya portfolio dari si pembuat, buat pancingan biar orang lain tahu kemampuan kita dan mengantarkan kita pada proyek/pekerjaan lain yang tidak kalah menguntungkan.

Tapi kalau saya sih senang atas jawaban Linus Torvald, atas pertanyaan seperti ini juga, kira-kira jawabannya  “Apa sebenarnya yang saya cari dalam hidup? Saya sudah hidup cukup dan yang terpenting saya senang dan bahagia dengan berbagi.”

Jadi kesimpulannya kan lumayan banget tu kalau aplikasi kita bisa digunakan, dipelajari dan bermanfaat bagi orang lain, tapi sekalian mendapatkan keuntungan bagi kita ..

Apalagi kalau ditambah nantinya apabila sudah dapat untung banyak, bisa bayar zakat, pajak, CSR, membatu masyarakat sekitar, menciptakan lapangan kerja karena semakin banyak yang disupport pasti berbanding lurus dengan semakin banyaknya tenaga yang terserap (setidaknya dibanding dengan hanya jualan pure jualan lisensi), Ya Nggak???

Peta FOSS Support Centers di Indonesia

Dalam rangka bersama-sama membantu meluruskan salah satu Fear, uncertainty and doubt (FUD), tentang FOSS bahwa “F/OSS tidak ada support-nya” maka AOSI, berinisiatif untuk menampilkan peta support untuk FOSS di Indonesia.

Untuk itu Bair disini ikut coba bantuin Mas Harry Sufehmi untuk sosialisasi, khususnya saat ini mengumpulkan informasi dari rekan-rekan yang merasa mempunyai organisasi/lembaga/perusahaan/komunitas yang memberikan support untuk FOSS di Indonesia.

Nah bagi rekan-rekan yang ingin turut ditampilkan informasi institusinya di peta support tersebut, caranya mudah sekali. Cukup kirim informasi berikut ini :

1. Contact Person
2. Nama lembaga / perusahaan
3. Detail layanan yang disediakan
4. Informasi kontak : telpon / fax / email / HP / dst
5. Alamat
6. Jika diinginkan, bisa juga menampilkan gambar (foto / logo institusi / dst), maksimal ukuran 200 x 200 pixel
7. Koordinat lokasi, dalam format latitude & longitude. Presisi maksimal 15 digit (contoh: longitude : 101.123456789012)

Informasinya bisa diemail langsung ke msubair@gmail.com dan harry@rimbalinux.com.

Demikian informasi ini kami sampaikan. Semoga bermanfaat.

Stop mengatakan FOSS itu Perangkat Lunak Nirlisensi !!!!!

Sedang baca buku yang sebenarnya sudah lama dibeliin Adek di Bandung, judulnya adalah “Belajar Manajemen dari Perusahaan Peranti Lunak Nirlisensi”. sebuah buku yang sebenarnya isinya cukup bagus. Tapi ada yang penting yang harus Bair koreksi disini, yaitu penggunaan istilah Perangkat Lunak Nirlisensi (tidak mempunyai lisensi) oleh penulis untuk merujuk ke Free and Open Source Software (FOSS).

Bair benar-benar gak habis pikir kenapa penulis bisa melakukan kesalahan yang sangat fatal dan mendasar dengan menyebut FOSS dengan nirlisensi, padahal kalau baca bukunya begitu banyak mengutip referensi tentang sejarah dan filosofi FOSS ini. Dan anehnya disampulnya juga ada kutipan pujian dari seseorang yang merupakan anggota Konsorsium IGOS-SDN lagi, harusnya kan sempat dibaca oleh anggota Konsorsium IGOS-SDN ini… ck ck ck..

Pantas saja kalau ada orang-orang yang gak mau mengikutkan FOSS semisal Linux dalam tender-tender resmi pemerintah dengan alasan lucu bahwa “Linux gak punya lisensi”, sedangkan yang berkecimpung didunia ini saja masih kepleset… Apa karena FOSS itu source-nya boleh dipelajari, dan dikembangkan bersama bahkan ada yang bolehin perangkat lunak buatannya digunakan secara gratis tis tis.. maka langsung saja kita telanjangi bahwa perangkat lunak tersebut tidak punya lisensi.

Hmm bahasa Inggris saya mungkin pas-pasan tapi bisa nerka-nerkalah kalau license itu adalah grant permission tidak selalu harus ada hubungannya dengan uang atau aturan khusus yang harus sama antara satu lisensi dengan lisensi yang lain. Mungkin untuk gambaran, pada taukan kalo orang luar ngomong SIM (Surat Ijin Mengemudi) itu adalah Driving License yang dengan sangat jelas bermaksud surat ijin untuk mengemudi. Nah aturan pengeluaran SIM di tiap negara kan beda-beda, bisa jadi di Indonesia untuk mendapat surat ijin mengemudi tersebut kita harus mengikuti aturan tertentu dan membayar sejumlah uang kepada pihak yang mengeluarkan surat ijin tersebut. Nah apakah jika ada sebuah negara mengeluarkan “driving license” tersebut, tapi karena tidak mensyaratkan orang untuk membayar, atau aturan tertentu yang sama dengan negara lainnya kita bisa bilang di negara tersebut untuk mengemudi tidak punya surat ijin (lisensi).

Sama seperti dalam perangkat lunak, jika saya membuat suatu perangkat lunak, dan membuat/memilih aturan ijin penggunaan (lisensi) dari perangkat lunak saya menggunakan standar free software, apakah perangkat lunak saya itu tidak mempunyai lisensi??? Bahkan kita semua tahu bahwa amat sangat banyak sekali lisensi yang digunakan dalam perangkat lunak bebas, seperti The GNU General Public License, The GNU Lesser General Public License, The Cryptix General License, The Berkeley Database License, The Zope Public License version 2.0, The Apache License, Version 1.0., The original BSD license., dan banyak lagi (lengkapnya bisa dilihat disini).

Terus masih pas untuk bilang FOSS nirlisensi???? Kalo alasannya adalah sulitnya mencari padanan kata yang pas untuk menaungi Free Software dan Open Source, kenapa tidak gunakan istilah FOSS, FLOSS, atau F/OSS saja yang walaupun tidak mutlak diakui akan tetapi setidaknya lebih umum dan jauh lebih aman dari kemungkinan menimbulkan persepsi keliru yang fatal.

Oh ya, kalau mau lebih lengkap tentang lisensi dan teman-temannya bisa baca tulisan Mas Romi juga tentang ini.

*CMIIW*

Apakah Microsoft akan lebih ramah dengan Open Source pasca pensiunnya Bill Gates?

Seru baca-baca diskusi di Slashdot tentang kebijakan di Microsoft terhadap Open Source setelah pensiunnya Bill Gates. Berikut postingan pembuka diskusinya;

“Now that Gates has ‘retired’ from Microsoft, ZDNet is speculating that Microsoft will become much more Open Source friendly. From the article, ‘We already see quite a different approach to dealing with OSS and OSS companies from Sam Ramji’s group [which is] doing a great job in establishing dialog,’ said Rafael Laguna, CEO of Open-Xchange and a former marketing exec at SUSE Linux. ‘With Gates’ departure, the only mammoth remaining is Ballmer. With him away in a near future, Microsoft will definitely open up. They have to.'”

Sebagian besar sih meragukan, seperti komentar ini;

Oh right, after rigging the ISO process with OOXML and their triumph over open standards [robweir.com] they’re going to go open source? Balmer is still in charge and despite “retiring” Gates is still the executive chairman at Microsoft. There’s no evidence of change — this article is ridiculous.

So what would be evidence of change? Well, they’d need to move to an OSS compatible business model for starters but right now they’re still mostly about selling boxes of software. They don’t have a services-side in the same way that IBM do..

..

atau bahkan yang seperti ini;

I think Microsoft will end up announcing that Vista will be free for non-commercial use.

They wont release the source code but Windows will end up being free. They spread enough FUD that it wouldn’t be hard to to convince a lot of people that free=open source. But better than open source because you don’t have to set-up complex compilers and development environments you just need the binaries (yes i know but its FUD remember). Better because it stops someone inserting malicious code into the source.. the usual FUD.

They sell Windows to schools so cheap just to stop Linux getting much of a foothold anyway that giving it away wont make that much difference. They’ll still charge for Vista Ultimate/Pro/Uber-bloat or whatever its called but tie it in with online services.. for a small monthly fee. Vista for free and get Office/their gaming gaming thing/online media services for $15 per month.

Oh ya, walaupun sedikit ada juga yang cukup optimis, seperti ini;

I feel like Microsoft has taken some important steps towards playing nice with Open Source, and encouraging interoperability. Some examples include projects like IronPython, the WIX Installer tools, the fact that Silverlight actually supports at least one non-Windows platform, and the extremely detailed communications protocol documents recently released on MSDN. Sure, part of this has been for legal compliance reasons, and it turns out customers value things like interoperability.

I think there’s a subtler reason that will become more apparent in the coming years. Microsoft needs to hire new employees if it wants to stay relevant, and it competes with the likes of Google and others for these new hires. It also happens that probably the very best college candidates are the ones that have contributed to open source projects. These are the students that went beyond what their curriculum required of them, and showed the drive to understand and contribute to a real-world project on their spare time. This kind of experience is valuable in a new hire, but many of them would be turned off by an anti open source attitude and look for more open source-friendly employers. In other words, to attract the best young minds (which is crucial to Microsoft’s long term success), Microsoft is going to have to become much more friendly to open source projects.

Hmmm… kalau menurut Bair sendiri *siapa yang nanya lu Ir?*, que sera sera aja deh, toh di dunia emang harus ada yang jadi seperti Microsoft :), kalo tidak Microsoft pasti akan ada nama lain tapi tetteuuupp dengan attribute dan metodh yang sama heheh.

Menurut kalian sendiri gimana?

Google Gadgets untuk Linux

GGL Standalone

Saya baru dengar dari Om Slahsdot, kalo Google sudah mengeluarkan Google Gadget for Linux. Dan kalo sodara-sodari sekalian mo tahu kenapa Bair anggap ini asyik, karena eh karena ;

Mulai dari apakah Gadgets itu sendiri?

Gadgets are simple HTML and JavaScript applications that can be embedded in webpages and other apps. [selengkapnya]

Gadgets yang dirilis ini bersifat antar platform (cross platform)

The Windows and Mac versions of Google Desktop has provided gadget hosting functionality on Windows and Mac for a while now and the Linux version of Google Gadgets will extend this platform to Linux users. By enabling cross-platform gadgets, a large library of existing gadgets are immediately available to Linux users. In addition, gadget developers will benefit from a much larger potential user base without having to learn a new API.

Dan yang paling menarik adalah sebagaimana Linux itu sendiri Google merilis Gadgets ini dengan lisensi open source, cuman bedanya lisensinya dibawah Apache License.

Nah bagi siapa saja yang tertarik dengan proyek ini baik sekedar iseng kebanyakan bandwith :), ingin download, jadi tester atau bahkan jadi pengembangnya, silahkan aja ke TKP website proyek ini.

Kreditan: Gambar diatas juga Bair culik dari website proyeknya.