Arsip Tag: migrasi

OSS bukan hanya lebih terjangkau !!

Semalam baru saja baca-baca Panduan Penelitian Open Source Software (OSS) dan ternyata banyak sekali yang ingin Bair coba diskusikan. Hmm untuk yang pertama ini saya tertarik untuk bahas strategi utama gerakan pengembangan OSS di negara kita (walaupun tidak selalu tepat tapi boleh juga dibaca IGOS) yang masih saja berkutat di isu harga “setidaknya itu yang orang tangkap”.

Walaupun ini gak salah dan mungkin sekarang diaggap paling masuk akal untuk jadi senjata utama, cuman takutnya lama kelamaan isu ini akan basi dengan sendirinya, atau bahkan takutnya tanpa sosialisasi lebih lanjut bisa jadi kontraproduktif dan salah paham bahkan oleh pemerintah sendiri, seperti kasus tender di sebuah daerah yang menolak Linux dan FOSS karena dikatakan tidak punya lisensi *kemungkinan besar masih mikir yang free + gratis itu = tidak punya lisensi, hak cipta, dan kawan-kawan*.

Oleh karena itu biar orang gak pada nangkap bahwa OSS itu hanya punya isu murah, meriah, mencret perlu Bair kutip dari dokumen tersebut kasus penerapan di 2 negara maju yang cukup berhasil dalam penerapan OSS, yang pertama adalah Belanda;

Sejak 6 Desember 2006, sedikitnya delapan pemerintah kota di Belanda telah menandatangani Manifest van de Open Gemeenten (Manifest of Open Government). Manifesto ini menyatakan bahwa, sistem teknologi informasi berikut pengadaannya di lingkungan pemerintah harus dilandasi oleh semangat Open Source dan Open Standard. Manifesto ini memang tidak secara eksplisit menyatakan pelarangan penggunaan proprietary software dalam tender. Manifesto ini menekankan strategi pengembangan OSS pada empat aspek keterbukaan (openness) sebagai berikut:

  1. Supplier Independence. Aspek ini memungkinkan pemerintah terlepas dari ketergantungan terhadap sebuah perusahaan/vendor tertentu dalam suatu tender.
  2. Interoperability. Pertukaran dokumen harus dapat dilakukan tanpa batas. Dokumen tersebut dapat diakses tanpa diharuskan menggunakan jenis perangkat lunak tertentu.
  3. Transparency and Verifiability. Pemerintah harus dapat mengaudit perangkat lunak yang digunakan, apakah sudah mendukung faktor pengamanan yang dibutuhkan.
  4. Digital Durability. Dokumen harus selalu dapat terbuka kapan pun, tanpa mengenal batas waktu.

Dan Jerman;

Jerman memiliki beragam inisiatif dalam implementasi OSS. Sebagai contoh, The German Bundestag menggunakan Linux pada 150 server-nya. Lalu, Pemerintah Munich berencana untuk mengganti sistem operasi untuk 140.000 desktop-nya ke Linux, kendati ada iming-iming potongan harga dari Microsoft. Kepolisian negeri ini juga telah melakukan migrasi bagi 110.000 kliennya ke Linux.

Yang menarik untuk dicermati, ternyata harga tidak selalu menjadi alasan dalam melakukan migrasi komputer ke Linux. Menteri Dalam Negeri Jerman, Otto Schilly, mengatakan: “Kita meningkatkan keamanan komputer dengan mencegah terjadinya monoculture dan menekan ketergantungan terhadap single supplier.”

FOSS, Globalisasi dan Manusia Gua

Kali ini bahasan kita sedikit canggih membahasa globalisasi :). Jangan khawatir saya gak akan bahas dari sisi yang rumit seperti ekonomi makro dan lain-lain karena saya juga gak ngerti. Disini saya juga gak akan menganalisa globalisasi itu untung rugi dan konspirasi canggih di dalamnya sekali lagi karena saya juga gak ngerti hehe.

Tapi suka gak suka, siap gak siap, globalisasi adalah kenyataan yang harus kita terima bahkan sudah kita rasakan dampaknya. Saya hanya ingin menulis pengalaman saat masih di Jakarta dan jadi konsultan migrasi ke Linux di salah satu perusahaan konsultan manajemen proyek di daerah Sudirman, tepatnya Bendungan Hilir (BenHil), Jakarta.

Di tengah mengerjakan migrasi tersebut saya sempat ngobrol-ngobrol dengan penanggung jawab dari pihak klien. Mereka cerita kalau mereka buru-buru migrasi sekarang ini karena ada keperluan, dan bukan karena takut di sweeping oleh aparat. Menurut pihak klien masalah sweeping walaupun sempat menjadi perhatian, tapi menurut mereka masih bisa “diakali” dan pihak manajemen tenang-tenang aja.

Perusahaan tersebut kepikiran untuk migrasi ke Free and Open Source Software (FOSS), justru setelah mereka akan mendapat proyek besar yang bekerja sama dengan klien besar dari luar negeri. Katanya perusahaan luar negeri tersebut dalam salah satu syarat kerjasamanya mengharuskan partner yang akan diajak kerjasama wajib menggunakan perangkat legal 100% dan bersedia diaudit. Nah begitu tau hal ini barulah pihak manajemen tergerak hatinya untuk beralih ke FOSS khususnya Sistem Operasi Linux.

Awalnya sih, pihak manajemen menyuruh untuk mendata dan mengecek harga perangkat lunak tak bebas (proprietary) yang selama ini digunakan dan masih belum legal (penghalusan dari membajak :D). Akan tetapi ternyata setelah diitung-itung pihak manajemen kaget, nilainya besar sekali. Bayangkan saja harga rata-rata untuk keperluan perangkat lunak untuk fasilitas paling standar pegawai di kantor (OS + Office + Internet + dll) budgetnya untuk 1 komputer bisa 3-5 jutaan khusus untuk software saja, jika tambah hardware bisa sekitar 8-10 juta perorang. Bayangkan kalau jumlah pegawai yang harus dikasih komputer adalah 100 orang silahkan aja dikali.

Memang sih untuk beberapa aplikasi yang worthed untuk dibeli karena belum dapat padanan FOSS yang seimbang dan hanya dipakai oleh 1-2 orang manajemen masih “terpaksa” membeli, tapi tetap saja besar biayanya bikin pusing manajemen hehehe, coba aja cek harga software proprietary untuk grafis atau untuk CAD ini.

Kalau katanya pakai Linux+OpenOffice kita harus training, toh sama saja katanya di aplikasi yang dulu para user dan pegawai juga dapat pembekalan. Selain itu tenaga kerja yang mahir Linux+OpenOffice tidak beda standar gajinya dengan yang hanya mahir proprietary, ya jelas lebih untung kalau dihitung-hitung. Untuk garansi, sekarang sudah banyak perusahaan IT yang menyediakan jasa support untuk FOSS, sehingga gak perlu khawatir gak ada yang bisa dijadikan kambing hitam hehhee.

Berkaca dari pengalaman tersebut saya jadi ngeri juga melihat keadaan di masa datang untuk perusahaan-perusahaan Indonesia. Saat ini kita masih terbuai dan nyaman bernafas dari celah-celah gua sistem kita sekarang, dan tidak mau keluar dari gua kita ini. Pada saatnya nanti kita akan shock dan kalau terlambat bisa mati saat celah itu sudah tertutup rapat.

Saat globalisasi datang dimana sistem legal merupakan keharusan dan bukan lagi kesadaran banyak dari kita yang akan kaget. Selama ini tidak pernah memperkirakan biaya pengeluaran perusahaan dalam bidang IT yang begitu besar. Pengeluaran untuk belanja perangkat lunak legal tidak pernah masuk anggaran kita, sedangkan kita tiba-tiba (sebenarnya sudah lama cuman kita aja yg pura-pura tidak tahu atau tidak mau tahu jadi seakan-akan tiba-tiba hehehe) dikasih 3 pilihan yang semua cukup berat; beli perangkat lunak proprietary meskipun mahal, belajar dan mengejar ketertinggalan kita dalam memanfaatkan FOSS untuk bisnis kita sementara selama ini kita tidak ada persiapan, atau di black list oleh pasar dan mati dengan sendirinya.

Mungkin untuk yang punya dana atau modal yang cukup tidak terlalu jadi masalah untuk masalah dana, walaupun tetap nanti akan ada masalah ketergantungan dan cross platform jika tidak hati-hati. Akan tetapi bagaimana dengan perusahaan-perusahaan kecil yang saat ini masih membajak dengan selalu bersembunyi dibawah ketiak ketidak mampuan, dan tidak melirik ke FOSS entah dengan alasan apapun.