Arsip Tag: Indonesia

Peta FOSS Support Centers di Indonesia

Dalam rangka bersama-sama membantu meluruskan salah satu Fear, uncertainty and doubt (FUD), tentang FOSS bahwa “F/OSS tidak ada support-nya” maka AOSI, berinisiatif untuk menampilkan peta support untuk FOSS di Indonesia.

Untuk itu Bair disini ikut coba bantuin Mas Harry Sufehmi untuk sosialisasi, khususnya saat ini mengumpulkan informasi dari rekan-rekan yang merasa mempunyai organisasi/lembaga/perusahaan/komunitas yang memberikan support untuk FOSS di Indonesia.

Nah bagi rekan-rekan yang ingin turut ditampilkan informasi institusinya di peta support tersebut, caranya mudah sekali. Cukup kirim informasi berikut ini :

1. Contact Person
2. Nama lembaga / perusahaan
3. Detail layanan yang disediakan
4. Informasi kontak : telpon / fax / email / HP / dst
5. Alamat
6. Jika diinginkan, bisa juga menampilkan gambar (foto / logo institusi / dst), maksimal ukuran 200 x 200 pixel
7. Koordinat lokasi, dalam format latitude & longitude. Presisi maksimal 15 digit (contoh: longitude : 101.123456789012)

Informasinya bisa diemail langsung ke msubair@gmail.com dan harry@rimbalinux.com.

Demikian informasi ini kami sampaikan. Semoga bermanfaat.

Iklan

OSS bukan hanya lebih terjangkau !!

Semalam baru saja baca-baca Panduan Penelitian Open Source Software (OSS) dan ternyata banyak sekali yang ingin Bair coba diskusikan. Hmm untuk yang pertama ini saya tertarik untuk bahas strategi utama gerakan pengembangan OSS di negara kita (walaupun tidak selalu tepat tapi boleh juga dibaca IGOS) yang masih saja berkutat di isu harga “setidaknya itu yang orang tangkap”.

Walaupun ini gak salah dan mungkin sekarang diaggap paling masuk akal untuk jadi senjata utama, cuman takutnya lama kelamaan isu ini akan basi dengan sendirinya, atau bahkan takutnya tanpa sosialisasi lebih lanjut bisa jadi kontraproduktif dan salah paham bahkan oleh pemerintah sendiri, seperti kasus tender di sebuah daerah yang menolak Linux dan FOSS karena dikatakan tidak punya lisensi *kemungkinan besar masih mikir yang free + gratis itu = tidak punya lisensi, hak cipta, dan kawan-kawan*.

Oleh karena itu biar orang gak pada nangkap bahwa OSS itu hanya punya isu murah, meriah, mencret perlu Bair kutip dari dokumen tersebut kasus penerapan di 2 negara maju yang cukup berhasil dalam penerapan OSS, yang pertama adalah Belanda;

Sejak 6 Desember 2006, sedikitnya delapan pemerintah kota di Belanda telah menandatangani Manifest van de Open Gemeenten (Manifest of Open Government). Manifesto ini menyatakan bahwa, sistem teknologi informasi berikut pengadaannya di lingkungan pemerintah harus dilandasi oleh semangat Open Source dan Open Standard. Manifesto ini memang tidak secara eksplisit menyatakan pelarangan penggunaan proprietary software dalam tender. Manifesto ini menekankan strategi pengembangan OSS pada empat aspek keterbukaan (openness) sebagai berikut:

  1. Supplier Independence. Aspek ini memungkinkan pemerintah terlepas dari ketergantungan terhadap sebuah perusahaan/vendor tertentu dalam suatu tender.
  2. Interoperability. Pertukaran dokumen harus dapat dilakukan tanpa batas. Dokumen tersebut dapat diakses tanpa diharuskan menggunakan jenis perangkat lunak tertentu.
  3. Transparency and Verifiability. Pemerintah harus dapat mengaudit perangkat lunak yang digunakan, apakah sudah mendukung faktor pengamanan yang dibutuhkan.
  4. Digital Durability. Dokumen harus selalu dapat terbuka kapan pun, tanpa mengenal batas waktu.

Dan Jerman;

Jerman memiliki beragam inisiatif dalam implementasi OSS. Sebagai contoh, The German Bundestag menggunakan Linux pada 150 server-nya. Lalu, Pemerintah Munich berencana untuk mengganti sistem operasi untuk 140.000 desktop-nya ke Linux, kendati ada iming-iming potongan harga dari Microsoft. Kepolisian negeri ini juga telah melakukan migrasi bagi 110.000 kliennya ke Linux.

Yang menarik untuk dicermati, ternyata harga tidak selalu menjadi alasan dalam melakukan migrasi komputer ke Linux. Menteri Dalam Negeri Jerman, Otto Schilly, mengatakan: “Kita meningkatkan keamanan komputer dengan mencegah terjadinya monoculture dan menekan ketergantungan terhadap single supplier.”