Sudah Waktunya Ada Pelajaran Khusus HKI di Sekolah

Dari ratusan yang hadir, hanya satu mahasiswa yang berani maju ke depan, dan itupun hanya asal jawab sambil garuk-garuk kepala. Ternyata menjawab beda antara Lisensi, Hak Cipta dan Paten dalam dunia perangkat lunak mempunyai efek yang tidak berbeda jauh dengan ketombe.

Saya yakin, kejadian seperti di atas saat kami dari komunitas membantu mengisi materi seputar Free/Open Source Software (F/OSS) di sebuah universitas juga akan terjadi di sekolah atau universitas lain jika pertanyaan yang sama diajukan. Ironis, padahal pemahaman tentang 3 hal ini bisa dikatakan pondasi dasar pengetahuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), OK – setidaknya satu tahap di atas sekedar tahu kalau membuat karya semisal perangkat lunak itu susah, dan tidak semua pembuatnya rela kalau aplikasinya digandakan tanpa izin dengan alasan klise semisal  “untuk belajar” atau “proyek kecil-kecilan”.

Yang lebih ironis lagi, bukan hanya pelajar saja, akan tetapi sepertinya sebagian besar guru, dosen, praktisi, profesional dan pemerintah sebagai regulator yang seharusnya mengajarkan dan mengedukasi masyarakat juga tidak benar-benar tahu, paham dan peduli dengan HKI ini.

Sedikit indikasi horor ke arah sana adalah saya cukup sering mendapati pembicara seminar, buku atau artikel yang masih keliru menggunakan istilah-istilah HKI. Misalnya saja ada buku yang melakukan kesalahan fatal dengan mengatakan bahwa F/OSS itu adalah perangkat lunak yang tidak punya lisensi atau buku lain yang menyamaratakan antara free software dan freware.

Sampai Kapan Mau Begini Terus

Baru-baru ini kita kembali harus malu akibat ketidakseriusan dalam masalah HKI ini, dimana Indonesia kembali dimasukkan ke dalam daftar hitam pelanggar hak cipta, padahal sebelumnya kita sudah sempat meningkat sedikit ke daftar abu-abu. Kembalinya kita ke daftar hitam ini mengindikasikan pendekatan yang dilakukan selama ini masih bersifat temporer dan tidak berhasil menyentuh akar masalahnya.

Sederhananya sosialisasi HKI baru bisa diklaim benar-benar berhasil kalau masyarakat umum ketika membeli barang bajakan sudah merasa sama dengan menjadi penadah barang curian, sehingga kalaupun masih ada yang melakukannya harus dengan sembunyi-sembunyi karena takut dan malu ketahuan. Setelah ini terjadi baru bisa realistis melangkah ke tahapan selanjutnya untuk mengharapkan masyarakat mampu menghargai, menggunakan serta lebih jauh memperjuangkan HKI secara tepat dan proporsional untuk kebaikan dirinya, masyarakat, bangsa dan dunia yang lebih baik.

Kalau ini sudah terjadi, tidak perlu ditanyakan lagi efeknya terhadap industri kreatif khususnya yang produklnya sangat mudah dibajak dengan bermodal PC standar plus CD/DVD R/W. Bayangkan saja kalau besarnya energi yang selama ini digunakan oleh industri kreatif untuk jungkir balik melindungi produknya dari pelanggaran HKI bisa dialihkan untuk hal lain yang lebih produktif.

Sebuah Langkah

Menggolkan masuknya sebuah mata kuliah atau pelajaran yang secara khusus mengajarkan HKI merupakan usulan langkah kongkrit yang sederhana tapi membutuhkan itikad kuat untuk bisa merealisasikannya. Memang nantinya sekedar tahu dan paham karena kebanyakan ujungnya hanya berupa teori di kelas, tapi tahu merupakan pijakan awal untuk sadar.

Generasi saya dan yang lebih tua mungkin sudah terlambat, tapi pelajar sekarang harus segera mendapat pengetahuan HKI ini sama mendalamnya dengan pembekalan teknis lainnya, semisal ilmu rekayasa perangkat lunak, dan lain-lain. Hal-hal berkaitan dengan HKI, dan secara umum materi-materi yang berhubungan dengan masalah sistem sosial, pembentukan mental, karakter, humaniora dan prinsip harus serius ditanamkan.

Sebab inilah yang membedakan nantinya calon pelaku industri kreatif kita dengan mesin komputer yang sekarang sudah bisa ditanamkan kecerdasan buatan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan rumit manusia, namun tidak punya empati, semangat, rasa, inovasi dan kreativitas.

Teknopreneur

4 thoughts on “Sudah Waktunya Ada Pelajaran Khusus HKI di Sekolah

  1. milisdad

    beberapa guru sudah mulai memberikan wacana kok tentang HKI.
    sebut saja SMK 2 Muhammadiyah Yogyakarta, guru TIK-nya selalu memberikan wacana HKI pada awal pelajaran di kelas 1 SMK.

    namun masih sungguh ironis untuk pendidikan masih banyak yang tidak tahu.
    pertanyaannya software itu fasilitas sekolah yg harus diadakan sekolah sendiri atau diknas?
    hal ini sama seperti pengadaan buku, semoga BOS bisa mengalokasikan software legal🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s