FOSS, Globalisasi dan Manusia Gua

Kali ini bahasan kita sedikit canggih membahasa globalisasi🙂. Jangan khawatir saya gak akan bahas dari sisi yang rumit seperti ekonomi makro dan lain-lain karena saya juga gak ngerti. Disini saya juga gak akan menganalisa globalisasi itu untung rugi dan konspirasi canggih di dalamnya sekali lagi karena saya juga gak ngerti hehe.

Tapi suka gak suka, siap gak siap, globalisasi adalah kenyataan yang harus kita terima bahkan sudah kita rasakan dampaknya. Saya hanya ingin menulis pengalaman saat masih di Jakarta dan jadi konsultan migrasi ke Linux di salah satu perusahaan konsultan manajemen proyek di daerah Sudirman, tepatnya Bendungan Hilir (BenHil), Jakarta.

Di tengah mengerjakan migrasi tersebut saya sempat ngobrol-ngobrol dengan penanggung jawab dari pihak klien. Mereka cerita kalau mereka buru-buru migrasi sekarang ini karena ada keperluan, dan bukan karena takut di sweeping oleh aparat. Menurut pihak klien masalah sweeping walaupun sempat menjadi perhatian, tapi menurut mereka masih bisa “diakali” dan pihak manajemen tenang-tenang aja.

Perusahaan tersebut kepikiran untuk migrasi ke Free and Open Source Software (FOSS), justru setelah mereka akan mendapat proyek besar yang bekerja sama dengan klien besar dari luar negeri. Katanya perusahaan luar negeri tersebut dalam salah satu syarat kerjasamanya mengharuskan partner yang akan diajak kerjasama wajib menggunakan perangkat legal 100% dan bersedia diaudit. Nah begitu tau hal ini barulah pihak manajemen tergerak hatinya untuk beralih ke FOSS khususnya Sistem Operasi Linux.

Awalnya sih, pihak manajemen menyuruh untuk mendata dan mengecek harga perangkat lunak tak bebas (proprietary) yang selama ini digunakan dan masih belum legal (penghalusan dari membajak :D). Akan tetapi ternyata setelah diitung-itung pihak manajemen kaget, nilainya besar sekali. Bayangkan saja harga rata-rata untuk keperluan perangkat lunak untuk fasilitas paling standar pegawai di kantor (OS + Office + Internet + dll) budgetnya untuk 1 komputer bisa 3-5 jutaan khusus untuk software saja, jika tambah hardware bisa sekitar 8-10 juta perorang. Bayangkan kalau jumlah pegawai yang harus dikasih komputer adalah 100 orang silahkan aja dikali.

Memang sih untuk beberapa aplikasi yang worthed untuk dibeli karena belum dapat padanan FOSS yang seimbang dan hanya dipakai oleh 1-2 orang manajemen masih “terpaksa” membeli, tapi tetap saja besar biayanya bikin pusing manajemen hehehe, coba aja cek harga software proprietary untuk grafis atau untuk CAD ini.

Kalau katanya pakai Linux+OpenOffice kita harus training, toh sama saja katanya di aplikasi yang dulu para user dan pegawai juga dapat pembekalan. Selain itu tenaga kerja yang mahir Linux+OpenOffice tidak beda standar gajinya dengan yang hanya mahir proprietary, ya jelas lebih untung kalau dihitung-hitung. Untuk garansi, sekarang sudah banyak perusahaan IT yang menyediakan jasa support untuk FOSS, sehingga gak perlu khawatir gak ada yang bisa dijadikan kambing hitam hehhee.

Berkaca dari pengalaman tersebut saya jadi ngeri juga melihat keadaan di masa datang untuk perusahaan-perusahaan Indonesia. Saat ini kita masih terbuai dan nyaman bernafas dari celah-celah gua sistem kita sekarang, dan tidak mau keluar dari gua kita ini. Pada saatnya nanti kita akan shock dan kalau terlambat bisa mati saat celah itu sudah tertutup rapat.

Saat globalisasi datang dimana sistem legal merupakan keharusan dan bukan lagi kesadaran banyak dari kita yang akan kaget. Selama ini tidak pernah memperkirakan biaya pengeluaran perusahaan dalam bidang IT yang begitu besar. Pengeluaran untuk belanja perangkat lunak legal tidak pernah masuk anggaran kita, sedangkan kita tiba-tiba (sebenarnya sudah lama cuman kita aja yg pura-pura tidak tahu atau tidak mau tahu jadi seakan-akan tiba-tiba hehehe) dikasih 3 pilihan yang semua cukup berat; beli perangkat lunak proprietary meskipun mahal, belajar dan mengejar ketertinggalan kita dalam memanfaatkan FOSS untuk bisnis kita sementara selama ini kita tidak ada persiapan, atau di black list oleh pasar dan mati dengan sendirinya.

Mungkin untuk yang punya dana atau modal yang cukup tidak terlalu jadi masalah untuk masalah dana, walaupun tetap nanti akan ada masalah ketergantungan dan cross platform jika tidak hati-hati. Akan tetapi bagaimana dengan perusahaan-perusahaan kecil yang saat ini masih membajak dengan selalu bersembunyi dibawah ketiak ketidak mampuan, dan tidak melirik ke FOSS entah dengan alasan apapun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s