Free Software yang tidak sama dengan Freeware

Beberapa hari yang lalu, saya dan istriku yang suaminya cakep jalan-jalan ke Gramedia di salah satu Mall di Palembang. Biasa, pengen baca buku gratis liat-liat buku manajemen ama teknologi informasi, sementara istrinya cowok cakep tadi seperti biasa nyari buku tentang baby dan kehamilan.

Pada salah satu rak saya sempat melihat buku yang *kalo tidak salah berarti betul* judulnya “The Best Freeware”, terbitan dari salah satu penerbit yang berpusat di Jogjakarta. Saya sempat liat sampulnya, tapi tidak sempat melihat isinya karena kebetulan masih diplastik dan agak malas buka🙂. Yang menjadi perhatian saya adalah di sampulnya saya sempat melihat beberapa logo aplikasi, dan salah satunya ada logo Ubuntu.

Hmm walaupun gak tau isinya (ya iyyalah kan belum baca, emang bisa diterawang hehe), kemungkinan besar secara eksplisit atau implisit terdapat info bahwa salah satu contoh Freeware adalah Sistem Operasi GNU/Linux Ubuntu, dan andaikatapun tidak ada isi seperti itu didalamnya, penulis atau penerbit buku tersebut sudah dapat dikatakan kurang teliti dengan menyertakan logo Ubuntu di buku yang berjudul “The best Freeware”.

Entah disengaja atau tidak disengaja buku dan beberapa media kita sering ikut berkontribusi dalam penyebaran beberapa pemaknaan yang tidak tepat, sama seperti kasus istilah hacker yang beberapa waktu lalu sempat ramai.

Mungkin sudah pada tahu, tapi ada baiknya saya coba sedikit bahas semampu saya🙂 disini. Freeware dapat didefinisikan sebagai Perangkat lunak gratis dengan kode sumber tertutup, sehingga orang lain tidak bisa mempelajari, memodifikasi, dan memperbaiki kode sumber perangkat lunak tersebut. Sedangkan sebaliknya Free Software tidak harus gratis tapi yang lebih penting adalah adanya kebebasan untuk mempelajari, memodifikasi, memperbaiki dan menyebarluaskan dari aplikasi tersebut (Coba lihat filosofi Free Software). Bagi yang kurang jelas, silahkan baca disini analogi yang cukup bagus tentang jenis-jenis lisensi software.

Hal ini harus bisa kita jelaskan, karena kalau tidak efeknya bisa panjang dan menimbulkan kesalahpahaman-kesalahpahaman lain. Seperti ada beberapa komentar bahwa “Ah Linux itu taktik dagang aja gratis, entar kalau udah populer juga pasti maksa bayar”, atau “Windows juga sekarang Open Source kok, beberapa aplikasinya dari Microsoft juga gratis”. Hal ini juga menjadi salah satu kerancuan yang saya temukan saat membantu semampunya membawakan materi di HRP SumSel 2 hari yang lalu.

Kalo orang paham tentang FOSS pasti tahu bahwa dengan adanya aturan Free Software ini tidak ada hubungannya dengan harga gratis, tapi lebih kepada kebebasan dari ketergantungan dan berbagi. Dengan aturan Free Software walaupun suatu saat Linux misalnya diminta bayaran (kecuali Ubuntu yang udah dipastikan dan dijanjikan akan gratis seterusnya) orang akan tetap bisa menggunakannya dan tidak dikontrol oleh vendor atau produsennya. Saat ini pun sudah ada contoh, misalnya kita lihat Red Hat yang mengeluarkan Red Hat Enterprise Linux walaupun dengan biaya (disamping tetap mengawal Fedora yang gratis) akan tetapi harus tetap membagi source code-nya kepada publik. Bagi yang tidak ingin membeli garansi, support atau kelebihan layanan berbayar dari Red Hat tersebut silahkan saja memanfaatkan Centos yang merupakan buah karya source code Red Hat Enterprise Linux yang diambil untuk dipaketkan ulang oleh komunitas.

Tentang adanya kerancuan yang coba dimunculkan (entah oleh siapa dan entah sengaja atau tidak disengaja :D) berkaitan dengan Free Software ini, saya kepikiran untuk menyertakan disini posting Mas Andry S Huzain yang cukup singkat dan jelas beberapa waktu lalu di mailing list Ubuntu-ID tentang masalah ini;

Menurut http://www.gnu.org/philosophy/free-sw.html :

  • The freedom to run the program, for any purpose (freedom 0).
  • The freedom to study how the program works, and adapt it to your needs (freedom 1). Access to the source code is a precondition for this.
  • The freedom to redistribute copies so you can help your neighbor (freedom 2).
  • The freedom to improve the program, and release your improvements to the public, so that the whole community benefits (freedom 3). Access to the source code is a precondition for this.

Free bukan berarti gratis => sehingga Freeware bukan Free Software.

Acrobat Reader itu freeware, tapi BUKAN free software. Kenapa? KARENA KITA NGGAK BISA LIAT SOURCE CODE DAN MENGUBAHNYA SESUAI SELERA.

Tapi ada juga yang membuka source code-nya, tapi tidak memperbolehkan pihak lain mengutak-atik. Inipun bukan free software. Saya tegaskan lagi:

OPEN SOURCE bukan berarti FREE SOFTWARE!

Microsoft Office 2007 UI Ribbon (itu lho, toolbar gede2 ala Office 2007) itu open source. Tinggal download saja dari MSDN. Masalahnya M$ tidak memperbolehkan kita mengutak-atik. Saya nggak bisa subclass dari control2 yang sudah ada. Bahkan jika saya tahu ada bug, saya nggak punya hak untuk memperbaiki.

You can look, but you CAN’T touch. Microsoft menamainya dengan “Shared Source”.

Munculnya “Shared Source” seingatnya saya dimulai dari gugatan pemerintah Cina untuk tidak memakai Windows bukan karena alasan harga, tapi karena alasan “closed source” nggak bisa diaudit. Microsoft ngalah, lalu mereka rilis source-code Windows ME untuk pemerintah Cina saja.

Hongkong, meskipun sama2 “Cina”, nggak boleh liat :d

Jadi “Microsoft Shared Source” itu :
1. You can look but you can’t touch. Melanggar konsep Freedom 1.
2. Hanya negara tertentu yang bisa melihat. Melanggar konsep Freedom 2 dan Freedom 3.

And guess what?

2 jenis lisensi Microsoft yang diapprove OSI, –yaitu Microsoft Reciprocal License dan Microsoft Public License, semuanya adalah derivatif langsung dari “Shared Source” ( http://en.wikipedia.org/wiki/Shared_source) .

Jadi, secara hukum lu ga bisa porting Shared Source punya Microsoft. Meskipun lu bisa liat source-codenya.

7 thoughts on “Free Software yang tidak sama dengan Freeware

  1. bowie

    Nice Post

    1. Hindari penggunaan istilah “cowok ganteng”, biasanya akan berpengaruh ke hasil render HTML🙂

    2. Kalo ke Gramedia lihat buku masih diplastik jangan dibuka dunk..beli bang

    3. freeware belum tentu open source, open source pasti free ware ( eh bener gak ya )

    4. Terima kasih atas pencerahannya atas istilah2x diatas..sangat membantu dalam memperluas wawasan…nice job keep spirit bro…

    5. Ayo buat distro Linux ir, BARUX ^_^ ( Bair Linux )

    6. Blogmu akan kujadikan referrer site di prabowoadis.com

    Balas
  2. subair Penulis Tulisan

    To Mas Bowie Ganteng

    1. Makanya saya pakai istilah “cowok cakep” Mas hehe.

    2. Hehehe.. kita maunya sih beli semua Bang🙂, tapi masih sedikit buku komputer yang komik hehee..

    3. Yang ini saya jawab disini ya;

    Open source belum tentu freeware (software gratisan). Soalnya ada beberapa open source yang berbayar, istilahnya commercial open source http://en.wikipedia.org/wiki/Commercial_open_source_applications.

    Walaupun berbayar, tapi klien tetap diuntungkan karena klien boleh belajar dan kedepannya punya kesempatan atau pilihan untuk mengembangkan sendiri aplikasi nya tersebut dan gak terikat atau bisa dikadalin terus oleh si vendor. Jadi lebih adil, karena kadang beberapa kasus kita tidak puas dengan pasca jual dari suatu produk tapi karena kita tidak ada pilihan atau sulit untuk berpaling, soalnya hanya si vendor yang tau tentag aplikasi ini ya terpaksa pakai vendor itu terus.

    4. Iya mudah-mudahan bermanfaat, kalau ada yang salah tolong dikoreksi, takutnya malah penggelapan bukan pencerahan🙂. Mas Bowie juga semangat ya, hidup lantai 7 AMDI hehehe.

    5. Kalau bikin distro Linux baru gak sulit, cukup 2 minggu gak keluar rumah udah selesai, tapi istiqomah untuk maintenance yang paling sulit hehehe. Mending kalo punya waktu bantuin maintenance Ubuntu atau anaknya BlankOn dulu heehehe.

    Tapi untuk beberapa kasus spesifik kita udah pernah remastering-remastering distro tapi gak dikasih nama Bair ahahha, soalnya kata orang-orang nama Bair tidak menjual, walaupun kata orang juga tampang Bair sangat menjual :p

    6. Blog Mas Bowie juga sudah saya kasih di bagian link

    Matur nuwun Mas🙂

    Balas
  3. Ping balik: Stop mengatakan FOSS itu Perangkat Lunak Nirlisensi !!!!! « Bair is a geek [??]

  4. Ping balik: Kok ada yang mau-maunya buat aplikasi terus dibebaskan aja? « Bair is a geek [??]

  5. Ping balik: Kamu aktivis Linux yang bagaimana ? :) « Bair is a geek [??]

  6. Ping balik: Sudah Waktunya Ada Pelajaran Khusus HKI di Sekolah « BairBelajar# Free/Open Source Software >> Kehidupan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s