Feed on
Tulisan
Komentar

Diktator yang baik hati.. :)

Mungkin agak heran juga baca judul diatas, emang bisa apa.. kata diktator disandingkan dengan kata baik hati :), hmm istilah ini betul-betul ada di dunia Free Open Source Software (FOSS), istilah aslinya sih dalam bahasa inggris, yaitu Benevolent Dictator For Life;

Benevolent Dictator For Life (commonly known as BDFL) is a title sometimes given to an individual inside open source software development teams, in reference to the concept of benevolent dictatorship. The title is typically given to the main or initial promoter of the project.

Dalam dunia FOSS, BDFL ini memang terbukti manjur diterapkan di tengah-tengah penelitian dan pengembangan perangkat lunak yang bersifat terbuka dengan ciri-cirinya yang sangat dinamis. Mungkin sudah pada tau dengan Linus Torvald yang memimpin Linux sampai sekarang, Mattias Ettrich dengan KDE, Guido van Rossum dengan Python, Patrick Volkerding dengan Slackware Linux, Mark Shuttleworth dengan Ubuntu, dll.

Bahkan untuk nama terakhir Mark Shuttleworth dapat kita lihat di Code of Conduct dari Komunitas Ubuntu dimana ada kutipan yang sedikit kontroversi;

“When you are unsure, ask for help. Nobody knows everything, and nobody is expected to be perfect in the Ubuntu community (except of course the SABDFL).”

.. nah yang sedikit mengganjal adalah kata-kata “perfect” untuk si SABDF yang tak lain adalah Mark Shuttleworth. Makna dari kutipan diatas menurut teman di mailing list *katanyasih :)* adalah untuk penentu keputusan mutlak dalam komunitas Ubuntu, semisal ada pengambilan keputusan atau penyelesaian perbedaan pendapat dalam komunitas *cmiiw*.

Tentunya semuanya ditempatkan pada porsinya, mo gimana lagi memang ini proyek mereka bahkan ciptaan mereka, kalau gak setuju gak usah diikuti.., toh gak dipaksa juga, atau bahkan bisa bikin fork aja kalau perlu, namanya juga terbuka.

Hmmm.. terlepas pro kontra, diluar dunia FOSS khususnya dunia nyata ada gak ya istilah Diktator yang Baik Hati ?

Baru sadar kalau Bair lupa kasih liputan dari ketemuan belajar bareng komunitas Ubuntu-ID yang ada di Sumatera Selatan. Hmm walaupun materinya kadang tidak sesuai rencana, soalnya materi firewall diundur untuk materi bulan depan, 30 Agustus 2008 karena sebelumnya pematerinya berhalangan *maklum Mas Agus orang sibuk :)*.

Untuk bulan Juni 2008, materinya selain sharing permasalahan Ubuntu dari teman-teman yang hadir, materi utamanya adalah presentasi tentang WIMAX :). Walaupun gak berhubungan langsung dengan Ubuntu atau FOSS, tapi materi ini lumayan menarik mumpung Riska adik ipar yang baru selesai ujian TA tentang Wimax di IF ITB datang dan mau diminta untuk sharing.

Belajar Bareng ubuntu SumSel

Ketemuan belajar bareng tanggal 28 Juni 2008

Sedangkan bulan Juli 2008, seperti biasa dibuka biasa dengan basa-basi :) dan sharing permasalahan Ubuntu dan seputar FOSS, kita langsung nyoba bareng-bareng PrestaShop, CMS Open Source yang keren untuk E-Commerce.

Belajar Bareng ubuntu SumSel

Ketemuan belajar bareng tanggal 26 Juli 2008

Oh iya, bulan ini belajar bareng kembali dijadwalkan seperti biasa yaitu Sabtu terakhir tiap bulannya (30 Agustus 2008).

Alhamdulillah sekarang pemerintah lewat Diknas-nya telah membuat suatu trobosan dengan menyediakan buku gratis dalam bentuk e-book yang bisa di download (Proyek Buku Sekolah Elektronik). Walaupun masih ada kekurangannya :), maklum masih berjuang melepas tipikal yang lama, tapi kita harus fair dan harus memberi apresiasi setidaknya sudah ada itikad baik dari pihak pemerintah kita.

Postingan kali ini Bair coba untuk menangkap 2 keluhan utama dari teman-teman tentang kekurangan proyek buku pendidikan ini, tapi kalo ini diusahakan untuk lebih fokus pada pemecahan masalahnya, tentunya sesuai kapasitas dan kemampuan Bair yang cakep hanya rakyat jelata.

2 isu/masukan/kritik utama yang muncul terhadap proyek ini adalah;

1. File buku-buku yang disediakan untuk di download ukurannya gak kira-kira, bayangkan saja sampai ratusan MB (MegaByte) ukurannya Ir, misal buku Matematika untuk SD kelas 1 yang ukurannya 399 MB, kok gak dikompresi sih ama pihak Diknas, mana website lelet, bahkan halaman utamanya http://bse.depdiknas.go.id/ saja sering tidak bisa diakses. Coba bayangkan bagaimana teman-teman di daerah yang akses internetnya sangat amat terbatas, bisa-bisa download seharian untuk 1 buku, kalo gak gratis downloadnya aja bisa jadi lebih mahal dari buku cetak tuh Ir.

Iya, emang itu juga yang Bair tangkap, makanya setelah tanya om Google ternyata langsung dapat beberapa solusinya. Salah satu solusi paling bagus adalah dari info yang Bair dapat dari blog teman-teman yang lain, bahwa Pak Tri dari InVirCom sudah berbaik hati untuk meluangkan waktu tanpa dibayar untuk mendownload semua buku tersebut, kemudian melakukan kompresi (yang gak sulit sama sekali, tapi gak tau kenapa tidak dilakukan oleh Diknas), dan kemudian e-book gratis itu dipasang di URL http://bse.invir.com/ untuk di-download. Hasilnya pun sangat amat memuaskan sekali, selain server-nya yang lebih cepat (entah karena kualitas server-nya yang lebih bagus, atau karena memang masih jarang yang download lewat sini) ukuran berkasnya juga keren banget, misalnya buku matematika yang disebutkan diatas yang ukurannya 399 MB, setelah dikompresi hasilnya cuman 11,168 MB.

2. Nomor 1 sih udah lumayan OK, tapi kan yang kita dapat baru dalam bentuk e-book, dan harus dibaca di komputer. Sedangkan gak semua orang kan punya komputer (baca PC) untuk membaca buku ini, jadi kita harus print. Masalah terbesar lainnya adalah saat harus print di beberapa rental komputer harganya bisa sampai Rp. 1000 per lembar, nah kan jadinya bisa lebih mahal lagi, coba bayangkan kalo isi bukunya sampai ratusan, kan bisa ratusan ribu.

Hmmm… iya juga sih. Solusi paling bagus sih, tiap sekolah atau siapapun orang yang punya kemampuan untuk mengunduh dan mencetak buku ini sangat dianjurkan untuk membuat master yang siap dipinjam (tentunya gratis) untuk di foto kopi oleh orang yang butuh. Walaupun foto kopi jatuhnya masih agak mahal untuk beberapa tempat, akan tetapi masih jauh lebih murah dari print di rental komputer apalagi warnet.

Itu dulu mungkin dari Bair, dan sebagai kontribusi seadanya, Bair bersedia membantu teman-teman atau siapapun di Palembang dan sekitarnya untuk solusi No 1 (download file e-book) dan No 2 (buatkan master buku yang siap di-fotokopi) secara gratis bagi yang berada di Palembang dan sekitarnya. Silahkan saja kontak Bair, dan kasih informasi-informasi yang dibutuhkan seperti identitas, buku apa yang dibutuhkan dan lain-lain termasuk tentunya dengan janji bahwa nanti e-book ini tidak akan digunakan untuk komersil apalagi minta bayaran kalo ada teman-teman lain yang mau copy.

Gimana, ada teman-teman yang mau ikut-ikutan jadi tempat copy center e-book ini untuk cover daerah sekitar masing-masing? Kalo ada silahkan saja tulis nama dan alamat kontaknya di kolom komentar.

nb: Ya..ya.. saya tahu solusi terbaik sebenarnya adalah dengan memperbesar kepemilikan atau akses terhadap komputer dengan akses internet yang layak yang murah atau kalau bisa gratis :)

Saya sering menggunakan aplikasi FOSS (Free / Open Source Software), malah bisa dapat produktif dan dapat duit dengan bantuan FOSS, seperti online menggunakan Firefox, membuat design dengan GIMP, mengembangkan web dari WordPress, Joomla atau Drupal, dan lain-lain. Bisa gak ya, saya ikutan berkontribusi sesuai apa yang saya bisa tentunya, itung-itung balas jasa?

Nah kalau itu pertanyaan kamu, gak perlu khawatir, FOSS-kan memang dirancang juga untuk memberi kesempatan orang-orang untuk ikutan beramal jariyah a.k.a berkontribusi.

Kontribusi dalam dunia FOSS, tidak selalu harus bersifat teknis sebangsa coding untuk pengembangan atau memperbaiki bugs. Kita bisa berkontribusi dalam banyak hal mulai dari memberi donasi, membantu art work seperti desain logo atau tampilan aplikasi, membantu membuat dokumentasi, menjawab pertanyaan teman-teman di berbagai forum dan mailing list, menerjemahkan aplikasi ke bahasa Indonesia, dan masih banyak lagi termasuk yang kadang dianggap remeh tapi sangat besar manfaatnya adalah melaporkan bugs aplikasi.

Berkontribusi Lewat Launchpad

Salah satu media yang bisa digunakan untuk berkontribusi adalah Launchpad (http://launchpad.net) yang dipelihara oleh Canonical Ltd, pemilik resmi trademark Ubuntu. Launchpad ini merupakan sebuah situs web yang ditujukan khusus untuk memfasilitasi kolaborasi orang-orang di seluruh dunia dalam pengembangan, pemeliharaan berbagai proyek perangkat lunak khususnya yang berbasis FOSS.

Launchpad

Launchpad yang pada awalnya memang ditujukan khusus untuk dapur kolaborasi Ubuntu dan berbasis Zope 3, saat ini memiliki 4 modul utama dengan fungsi yang berbeda pula, ke-4 modul utama tersebut adalah;
- Rosetta, yang berfungsi untuk maintain terjemahan suatu perangkat lunak.
- Malone, digunakan sebagai bug tracker.
- Soyuz, sebagai package manager di Launchpad.
- Bazaar, sejenis SVN/CVS untuk membantu kegiatan development berjama’ah, khususnya untuk maintain repositori code dan versioning.

Keanggotaaan di Launchpad ini sangat terbuka. Semua orang dari minat, asal dan latar belakang bebas mendaftar dan ikut berkontribusi. Setiap anggota bebas memilih untuk menjadi tim dari sejumlah proyek yang tersedia dan memberikan kontribusi sesuai keinginan masing-masing.

Selain ikut bergabung pada tim dari proyek yang sudah ada, kitapun bisa membuat proyek sendiri. Nantinya proyek kita akan diperlakukan sama dengan proyek lainnya, dimana ketika proyek kita tecantum di Launcpad, maka siapapun dapat melihat proyek kita dan tentunya diharapkan dapat ikut bergabung dan membantu proyek kita tersebut.

Komunitas Indonesia di Launchpad

Launchpad yang sifatnya bebas terbuka ini memiliki ribuan sukarelawan dari seluruh dunia, tidak terkecuali negara kita tercinta Indonesia. Namun harus diakui kontribusi Indonesia masih jauh tertinggal dari negara lain, jangankan dibandingkan dengan negara maju seperti Amerika, Belanda, Jerman, dan lain-lain, dibandingkan dari negara tetangga kita saja seperti Malaysia, Vietnam dan Thailan kita masih tertinggal.

Salah satu parameter yang sering teman-teman komunitas jadikan acuan di Launchpad (walaupun tentu saja, bukan gambaran keseluruhan proyek) adalah terjemahan Ubuntu versi terbaru ke bahasa lokal masing-masing negara. Pada proyek terjemahan Ubuntu terbaru yaitu versi 8.04 Hardy Heron, Indonesia masih tertinggal dari negara-negara tetangga lain, dan hanya unggul dari Filipina yang kemungkinan disebabkan karena bahasa Iggris juga adalah bahasa resmi mereka selain Tagalog.

Data terakhir pada tanggal 10 Juli 2008, yang Bair ambil menunjukkan bahwa pada proyek tersebut Indonesian (Indonesia) masih memiliki 334.664 item yang belum diterjemahkan, sedangkan Malay (Malaysia) sebanyak 320.928 item, Tagalog (Filipina) sebanyak 404.011 item, Thai (Thailand) sebanyak 287.070, dan Vietnamese (Vietnam) yang paling hebat dengan hanya menyisakan 217.086 item saja.

Kendala terbesar kita sih memang adalah koneksi internet yang masih kurang penyebarannya dan mahal di Indonesia, walaupun sebenarnya sebagian kontribusi kita bisa dilakukan secara offline, termasuk menerjemahkan yang sudah ada fitur untuk kerja offline-nya. Hmm tapi berdasarkan pengalaman Bair, dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan :).

Jadi “Selamat Berkontribusi :D”.

Seru baca-baca diskusi di Slashdot tentang kebijakan di Microsoft terhadap Open Source setelah pensiunnya Bill Gates. Berikut postingan pembuka diskusinya;

“Now that Gates has ‘retired’ from Microsoft, ZDNet is speculating that Microsoft will become much more Open Source friendly. From the article, ‘We already see quite a different approach to dealing with OSS and OSS companies from Sam Ramji’s group [which is] doing a great job in establishing dialog,’ said Rafael Laguna, CEO of Open-Xchange and a former marketing exec at SUSE Linux. ‘With Gates’ departure, the only mammoth remaining is Ballmer. With him away in a near future, Microsoft will definitely open up. They have to.’”

Sebagian besar sih meragukan, seperti komentar ini;

Oh right, after rigging the ISO process with OOXML and their triumph over open standards [robweir.com] they’re going to go open source? Balmer is still in charge and despite “retiring” Gates is still the executive chairman at Microsoft. There’s no evidence of change — this article is ridiculous.

So what would be evidence of change? Well, they’d need to move to an OSS compatible business model for starters but right now they’re still mostly about selling boxes of software. They don’t have a services-side in the same way that IBM do..

..

atau bahkan yang seperti ini;

I think Microsoft will end up announcing that Vista will be free for non-commercial use.

They wont release the source code but Windows will end up being free. They spread enough FUD that it wouldn’t be hard to to convince a lot of people that free=open source. But better than open source because you don’t have to set-up complex compilers and development environments you just need the binaries (yes i know but its FUD remember). Better because it stops someone inserting malicious code into the source.. the usual FUD.

They sell Windows to schools so cheap just to stop Linux getting much of a foothold anyway that giving it away wont make that much difference. They’ll still charge for Vista Ultimate/Pro/Uber-bloat or whatever its called but tie it in with online services.. for a small monthly fee. Vista for free and get Office/their gaming gaming thing/online media services for $15 per month.

Oh ya, walaupun sedikit ada juga yang cukup optimis, seperti ini;

I feel like Microsoft has taken some important steps towards playing nice with Open Source, and encouraging interoperability. Some examples include projects like IronPython, the WIX Installer tools, the fact that Silverlight actually supports at least one non-Windows platform, and the extremely detailed communications protocol documents recently released on MSDN. Sure, part of this has been for legal compliance reasons, and it turns out customers value things like interoperability.

I think there’s a subtler reason that will become more apparent in the coming years. Microsoft needs to hire new employees if it wants to stay relevant, and it competes with the likes of Google and others for these new hires. It also happens that probably the very best college candidates are the ones that have contributed to open source projects. These are the students that went beyond what their curriculum required of them, and showed the drive to understand and contribute to a real-world project on their spare time. This kind of experience is valuable in a new hire, but many of them would be turned off by an anti open source attitude and look for more open source-friendly employers. In other words, to attract the best young minds (which is crucial to Microsoft’s long term success), Microsoft is going to have to become much more friendly to open source projects.

Hmmm… kalau menurut Bair sendiri *siapa yang nanya lu Ir?*, que sera sera aja deh, toh di dunia emang harus ada yang jadi seperti Microsoft :), kalo tidak Microsoft pasti akan ada nama lain tapi tetteuuupp dengan attribute dan metodh yang sama heheh.

Menurut kalian sendiri gimana?

Older Posts »