Saya sering menggunakan aplikasi FOSS (Free / Open Source Software), malah bisa dapat produktif dan dapat duit dengan bantuan FOSS, seperti online menggunakan Firefox, membuat design dengan GIMP, mengembangkan web dari WordPress, Joomla atau Drupal, dan lain-lain. Bisa gak ya, saya ikutan berkontribusi sesuai apa yang saya bisa tentunya, itung-itung balas jasa?
Nah kalau itu pertanyaan kamu, gak perlu khawatir, FOSS-kan memang dirancang juga untuk memberi kesempatan orang-orang untuk ikutan beramal jariyah a.k.a berkontribusi.
Kontribusi dalam dunia FOSS, tidak selalu harus bersifat teknis sebangsa coding untuk pengembangan atau memperbaiki bugs. Kita bisa berkontribusi dalam banyak hal mulai dari memberi donasi, membantu art work seperti desain logo atau tampilan aplikasi, membantu membuat dokumentasi, menjawab pertanyaan teman-teman di berbagai forum dan mailing list, menerjemahkan aplikasi ke bahasa Indonesia, dan masih banyak lagi termasuk yang kadang dianggap remeh tapi sangat besar manfaatnya adalah melaporkan bugs aplikasi.
Berkontribusi Lewat Launchpad
Salah satu media yang bisa digunakan untuk berkontribusi adalah Launchpad (http://launchpad.net) yang dipelihara oleh Canonical Ltd, pemilik resmi trademark Ubuntu. Launchpad ini merupakan sebuah situs web yang ditujukan khusus untuk memfasilitasi kolaborasi orang-orang di seluruh dunia dalam pengembangan, pemeliharaan berbagai proyek perangkat lunak khususnya yang berbasis FOSS.

Launchpad yang pada awalnya memang ditujukan khusus untuk dapur kolaborasi Ubuntu dan berbasis Zope 3, saat ini memiliki 4 modul utama dengan fungsi yang berbeda pula, ke-4 modul utama tersebut adalah;
- Rosetta, yang berfungsi untuk maintain terjemahan suatu perangkat lunak.
- Malone, digunakan sebagai bug tracker.
- Soyuz, sebagai package manager di Launchpad.
- Bazaar, sejenis SVN/CVS untuk membantu kegiatan development berjama’ah, khususnya untuk maintain repositori code dan versioning.
Keanggotaaan di Launchpad ini sangat terbuka. Semua orang dari minat, asal dan latar belakang bebas mendaftar dan ikut berkontribusi. Setiap anggota bebas memilih untuk menjadi tim dari sejumlah proyek yang tersedia dan memberikan kontribusi sesuai keinginan masing-masing.
Selain ikut bergabung pada tim dari proyek yang sudah ada, kitapun bisa membuat proyek sendiri. Nantinya proyek kita akan diperlakukan sama dengan proyek lainnya, dimana ketika proyek kita tecantum di Launcpad, maka siapapun dapat melihat proyek kita dan tentunya diharapkan dapat ikut bergabung dan membantu proyek kita tersebut.
Komunitas Indonesia di Launchpad
Launchpad yang sifatnya bebas terbuka ini memiliki ribuan sukarelawan dari seluruh dunia, tidak terkecuali negara kita tercinta Indonesia. Namun harus diakui kontribusi Indonesia masih jauh tertinggal dari negara lain, jangankan dibandingkan dengan negara maju seperti Amerika, Belanda, Jerman, dan lain-lain, dibandingkan dari negara tetangga kita saja seperti Malaysia, Vietnam dan Thailan kita masih tertinggal.
Salah satu parameter yang sering teman-teman komunitas jadikan acuan di Launchpad (walaupun tentu saja, bukan gambaran keseluruhan proyek) adalah terjemahan Ubuntu versi terbaru ke bahasa lokal masing-masing negara. Pada proyek terjemahan Ubuntu terbaru yaitu versi 8.04 Hardy Heron, Indonesia masih tertinggal dari negara-negara tetangga lain, dan hanya unggul dari Filipina yang kemungkinan disebabkan karena bahasa Iggris juga adalah bahasa resmi mereka selain Tagalog.
Data terakhir pada tanggal 10 Juli 2008, yang Bair ambil menunjukkan bahwa pada proyek tersebut Indonesian (Indonesia) masih memiliki 334.664 item yang belum diterjemahkan, sedangkan Malay (Malaysia) sebanyak 320.928 item, Tagalog (Filipina) sebanyak 404.011 item, Thai (Thailand) sebanyak 287.070, dan Vietnamese (Vietnam) yang paling hebat dengan hanya menyisakan 217.086 item saja.
Kendala terbesar kita sih memang adalah koneksi internet yang masih kurang penyebarannya dan mahal di Indonesia, walaupun sebenarnya sebagian kontribusi kita bisa dilakukan secara offline, termasuk menerjemahkan yang sudah ada fitur untuk kerja offline-nya. Hmm tapi berdasarkan pengalaman Bair, dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan :).
Jadi “Selamat Berkontribusi :D”.
I feel like Microsoft has taken some important steps towards playing nice with Open Source, and encouraging interoperability. Some examples include projects like IronPython, the WIX Installer tools, the fact that Silverlight actually supports at least one non-Windows platform, and the extremely detailed communications protocol documents recently released on MSDN. Sure, part of this has been for legal compliance reasons, and it turns out customers value things like interoperability.
I think there’s a subtler reason that will become more apparent in the coming years. Microsoft needs to hire new employees if it wants to stay relevant, and it competes with the likes of Google and others for these new hires. It also happens that probably the very best college candidates are the ones that have contributed to open source projects. These are the students that went beyond what their curriculum required of them, and showed the drive to understand and contribute to a real-world project on their spare time. This kind of experience is valuable in a new hire, but many of them would be turned off by an anti open source attitude and look for more open source-friendly employers. In other words, to attract the best young minds (which is crucial to Microsoft’s long term success), Microsoft is going to have to become much more friendly to open source projects.